Pakar strategi terkemuka memprediksi yen akan jatuh ke 170 per dolar
Seorang pengamat paling akurat di Bloomberg untuk pasangan USD/JPY memprediksi penurunan mata uang Jepang menjadi 170 yen per dolar. Vikram Murarka, pendiri Kshitij Consultancy Services, mengaitkan keberhasilannya dengan strategi sederhana: ia sepenuhnya mengabaikan kebisingan berita dan intervensi verbal dari para pejabat, hanya mengandalkan analisis teknis.
Pada kuartal terakhir, Murarka adalah salah satu dari sedikit pakar strategi yang secara tepat mengantisipasi penurunan yen di bawah angka 160. Menurutnya, alih-alih berfokus pada berita utama dari Kementerian Keuangan Jepang, para pedagang harus memetakan data ke grafik harga. Murarka berfokus pada rasio indeks Nikkei 225 dan Dow Jones, perbedaan suku bunga jangka pendek, dan nilai tukar yuan terhadap yen. Ia mencatat bahwa sejak tahun 2024, dinamika antara Nikkei dan Dow telah menjelaskan perilaku pasangan mata uang tersebut dengan lebih baik, menempatkan perbedaan imbal hasil tradisional pada peran sekunder.
Saat ini, mata uang Jepang diperdagangkan pada titik terendah 40 tahun terakhir, sekitar 165 yen per dolar. Pasar tertekan oleh kesenjangan suku bunga yang besar dan rencana pengeluaran besar-besaran Perdana Menteri Sanae Takaichi. Bahkan intervensi rekor pun gagal menstabilkan yen. Dari akhir April hingga akhir Mei, pemerintah menghabiskan 11,73 triliun yen (sekitar $72,3 miliar) untuk mendukung mata uang nasional, namun pelemahan yen tetap berlanjut.
Murarka yakin bahwa perdagangan carry trade akan terus menekan yen. Skenario paling optimis untuk Tokyo, menurut perhitungannya, hanyalah pemulihan jangka pendek ke 154 yen per dolar. Kemampuan Kementerian Keuangan untuk memengaruhi pasar telah berkurang secara signifikan, sehingga target 170 yen per dolar tampak cukup masuk akal untuk tahun ini.
Menteri Keuangan Satsuki Katayama terus mengancam para spekulan dengan "tindakan yang tepat" dan mendesak dana pensiun untuk aktif membeli aset domestik. Namun, para pedagang meragukan bahwa mata uang tersebut akan mengalami pertumbuhan berkelanjutan tanpa tindakan konkret dari Bank Sentral Jepang. Meskipun regulator menaikkan suku bunga bulan lalu, pasar memperkirakan hanya akan ada satu kenaikan moderat lagi sebesar seperempat poin hingga akhir tahun. Seperti yang diringkas oleh Murarka, Bank of Japan kemungkinan akan menjadi bank sentral utama terakhir yang menerapkan langkah-langkah pengetatan yang agresif.