Lihat juga
Pemberian sedikit, pasar meminta lebih banyak. Begitulah reaksi pasar ketika Departemen Keuangan AS mengatakan akan membeli obligasi pemerintah berjangka panjang senilai $6 miliar, lebih besar dari $4 miliar yang diperkirakan banyak pihak. Alih-alih bersyukur, para investor justru menyatakan kekecewaan — langkah "shock and awe" tersebut dinilai tidak memadai. Imbal hasil obligasi pemerinrtah sepuluh tahun melonjak ke level tertingginya sejak 2023, dan S&P 500 jatuh untuk sesi ketiga berturut-turut.
Pada saat yang sama, harga Brent menembus $101/barel. AS menyerang kapal tanker Iran di dekat Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Iran, sementara Houthi terus menargetkan infrastruktur minyak Saudi. Presiden AS Donald Trump meremehkan risiko dan berjanji akan mengakhiri konflik setelah pemilu paruh waktu, tetapi eskalasi kekerasan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Teheran menyatakan serangan balasan akan semakin ditingkatkan.
Dinamika S&P 500 dan imbal hasil obligasi pemerintah AS
Buyback itu sendiri memiliki sisi ironi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent melipatgandakan pembelian hingga tiga kali lipat dibandingkan rencana awal sebesar $4 miliar dalam upaya meredakan "demam" pasar obligasi. Pasar menanggapinya sebagai ujian ketegasan dan langsung menguji batasnya. Belum jelas apa yang akan dilakukan Bessent selanjutnya, tetapi episode ini menimbulkan teka-teki yang lebih dalam: imbal hasil telah meningkat selama beberapa waktu tanpa memicu kejatuhan penuh di pasar saham. Bahkan pada hari Rabu, S&P 500 berhasil memulihkan sebagian besar penurunan intraday.
Sekarang semua perhatian tertuju ke level 5% pada obligasi pemerintah tenor sepuluh tahun. Angka itu lebih dekat dari kapan pun dalam tiga tahun terakhir dan mewakili titik psikologis penting — sebuah angka bulat dan level tertinggi dalam hampir dua dekade. Sebagian besar pasar obligasi utama sudah berada di dekat puncak yang belum terlihat sejak krisis keuangan global. AS berhasil bertahan di bawah 5% sejak 2023. Breakout yang bertahan dan penutupan di atas 5% akan membuat skenario yang jauh lebih menakutkan bagi S&P 500 terasa jauh lebih masuk akal.
AI tetap menjadi selimut penghibur bagi para investor. Perusahaan teknologi sedang mengejar permintaan yang praktis tak terbatas, dan sulit untuk menghentikan siklus pendanaan ini hanya dengan kenaikan imbal hasil beberapa basis poin.
Momentum laba S&P 500
Lingkaran itu saling menguatkan. Hampir 86% emiten S&P 500 telah melaporkan laba yang melampaui estimasi, menandai kinerja terbaik sejak 2021. Proyeksi konsensus pertumbuhan EPS untuk tahun ini telah naik dari 24% menjadi 32%. Untuk saat ini, laba yang kuat masih mengimbangi penurunan valuasi (compressed multiples). Pertanyaan kuncinya tetap sama: mana yang akan datang lebih dulu — kembalinya selera risiko terhadap saham atau data inflasi pada hari Jumat, yang dapat mengubah keseimbangan menjelang pertemuan Fed 15–16 September?
Secara teknikal, grafik harian menunjukkan bahwa S&P 500 telah menembus pola wedge ke sisi bawah. Selama indeks ini tetap di bawah 7.675, probabilitas koreksi yang dipicu oleh pola reversal 1-2-3 meningkat. Masuk akal untuk mempertahankan posisi dan, pada saat-saat tertentu, menambah posisi short yang sudah dibuka sebelumnya.